Kekuatan Sebuah Nama

Brand memiliki beberapa elemen yang membuatnya selalu diingat dalam benak konsumen. Bisa berwujud logo, warna hingga yang bersifat emosional seperti pengalaman-pengalaman unik yang ditawarkan pada para konsumennya.

Namun perlu diingat bahwa salah satu elemen yang terpenting adalah nama. Karena tanpa sebuah nama, tidak mungkin bagi publik untuk mengenali brand tersebut. Ada beberapa jenis penamaan yang lazim dipergunakan di dalam branding, yaitu nama personal seperti Jack Daniel’s, Oprah, Kenny Roger’s, dan sebagainya.

Lalu, ada juga nama yang semideskriptif seperti Fish & Co, Telkomsel, Pepsodent; nama-nama abstrak seperti Pantene, Pepsi; hingga inisial seperti GE, HSBC, LG.

Uniknya, tidak ada kategori khusus dalam jenis-jenis penamaan tadi yang benar-benar memengaruhi kesuksesan sebuah brand karena semua kategori penamaan yang tadi disebutkan dapat kita temui pada brand-brand yang mendunia.

Meskipun begitu, pemilihan nama yang baik cukup memperkuat ekuitas brand tersebut di benak konsumen. Ada beberapa tips yang umum untuk memilih nama brand. Yang pertama, keep it simple. Nama brand yang terlalu panjang akan susah diingat oleh para konsumen.

Beberapa brand bahkan mengubah nama awal brand mereka dan memakai nama singkatan yang dibentuk oleh opini masyarakat seperti FedEx yang awalnya bernama Federal Express, lalu Westin yang merupakan singkatan dari Western International, dan dari contoh lokal yaitu Binus University yang sebelumnya memakai nama Universitas Bina Nusantara.

Perubahan ini dilakukan karena nama-nama tersebut lebih dikenal dengan baik di kalangan masyarakat, dan karena ekuitas yang kuat tersebutlah akhirnya membuat brand-brand yang bersangkutan beradaptasi.

Kembali kami ingatkan di sini bahwa penting sebuah brand untuk mampu menjaga relevansi pasar, dan pastinya persepsi dimiliki oleh khalayak walaupun produk dimiliki oleh kita selaku brand owner.

Tips yang kedua, sebisa mungkin untuk menghindari pemilihan nama yang terlalu terang-terangan mendeskripsikan produk ataupun layanan yang disediakan oleh brand tersebut. Karena di era yang penuh kompetisi ini, nama yang terlalu deskriptif cenderung akan terasa sangat generik.

Masyarakat tentunya lebih tertarik dengan nama-nama yang sedikit memberikan clue akan sesuatu yang ditawarkan oleh brand tersebut, dengan kata lain semideskriptif. Contohnya adalah Groupon yang merupakan singkatan dari group coupon. Groupon merupakan brand penyedia sertifikat diskon online di Amerika Serikat.

Nama mereka cukup menarik karena terdiri dari dua kata yang memberikan sedikit clue jenis layanan mereka namun tidak secara terang-terangan. Hal ini kemudian menimbulkan rasa penasaran yang akhirnya membuat konsumen akan lebih mencari tahu tentang detail brand tersebut.

Lalu, tips berikutnya adalah pentingnya strategi berkomunikasi untuk pemilihan nama bertipe inisial, karena nama seperti ini merupakan tipe yang paling susah diingat oleh konsumen karena inisial tidak dapat secara langsung mengomunikasikan suatu informasi ataupun karakter dari brand tersebut.

Terlebih lagi untuk brand yang baru diluncurkan, akan sangat sulit untuk memperkuat posisi brand tersebut di benak masyarakat dan membutuhkan lebih banyak resource untuk mengomunikasikan brand-nya ke masyarakat. Tips keempat, be creative. Untuk beberapa brand mungkin bisa mengambil pendekatan ke arah nama-nama yang unik dan playful seperti Google ataupun Yahoo!

Pemilihan nama jenis ini cukup relevan bagi brand-brand yang memang tidak membutuhkan keseriusan dalam membangun image mereka. Google dan Yahoo bertolak pada penyediaan jasa berbasis teknologi informasi yang digunakan sehari-hari oleh berbagai macam konsumen.

Penggunaan nama yang fun dan playful akan menimbulkan suasana yang ringan, menyenangkan, dan tidak membosankan bagi pengguna jasa mereka yang kesemuanya memberikan nilai positif bagi konsumen dan membuat mereka bertahan untuk terus menggunakan brand tersebut.

Selain itu, nama yang orisinal memiliki karakter yang kuat dan akan lebih stand-out di pasaran. Selain tips-tips di atas, tentunya ada beberapa kriteria lain yang memengaruhi bisa atau tidaknya sebuah nama digunakan seperti ketersediaan nama tersebut, apakah nama tersebut memiliki makna yang negatif dalam bahasa lain.

Dan, tentunya juga harus memikirkan strategi jangka panjang akan brand tersebut, seperti apakah nantinya brand tersebut akan memiliki subbrand seperti Nestle Koko Krunch, ataupun Sony PlayStation.

Meskipun kualitas produk dan layanan memang merupakan faktor standar yang menentukan kesuksesan sebuah brand, sebuah brand didukung sebuah nama yang khas serta strategi branding dan marketing yang inovatif dapat membangun brand yang kuat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s