teknik budidaya padi

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
PANGAN
(PADI,JAGUNG,KEDELAI)
1. Teknik Budidaya Padi
a. Botani Tanaman
Berdasarkan literatur Grist
(1960), padi dalam sistematika
tumbuhan diklasifikasikan ke
dalam Divisio Spermatophyta,
dengan Sub divisio
Angiospermae, termasuk ke
dalam kelas Monocotyledoneae,
Ordo adalah Poales, Famili
adalah Graminae, Genus adalah
Oryza Linn, dan Speciesnya
adalah Oryza sativa L.
Menurut D.Joy dan
E.J.Wibberley, tanaman padi
yang mempunyai nama botani
Oryza sativa dan dapat
dibedakan dalam dua tipe, yaitu
padi kering yang tumbuh di lahan
kering dan padi sawah yang
memerlukan air menggenang
dalam pertumbuhan dan
perkembangannya
Genus Oryza L. meliputi lebih
kurang 25 spesies, tersebar di
daerah tropik dan sub tropik
seperti Asia, Afrika, Amerika,
dan Australia.
Menurut Chevalier dan Neguier
padi berasal dari dua benua ;
Oryza fatua Koenig dan
Oryza sativa L berasal dari
benua Asia, sedangkan jenis
padi lainnya yaitu Oryza stapfii
Roschev dan Oryza glaberima
Steund berasal dari Afrika
Barat.
Padi yang ada sekarang ini
merupakan persilangan antara
Oryza officinalis dan Oryza
sativa f spontania. Tanaman padi
yang dapat tumbuh baik di
daerah tropis ialah indica,
sedangkan japonica banyak
diusahakan di daerah sub tropis
(Pustaka Bogor, 2005).
Berdasarkan literatur Aak (1992)
akar adalah bagian tanaman
yang berfungsi menyerap air dan
zat makanan dari dalam tanah,
kemudian diangkut ke bagian
atas tanaman. Akar tanaman
padi dapat dibedakan atas :
1. Radikula; akar yang
tumbuh pada saat benih
berkecambah. Pada
benih yang sedang
berkecambah timbul
calon akar dan batang.
Calon akar mengalami
pertumbuhan ke arah
bawah sehingga
terbentuk akar tunggang,
sedangkan calon batang
akan tumbuh ke atas
sehingga terbentuk
batang dan daun.
2. Akar serabut (akar
adventif); setelah 5-6 hari
terbentuk akar tunggang,
akar serabut akan
tumbuh.
3. Akar rambut ; merupakan
bagian akar yang keluar
dari akar tunggang dan
akar serabut. Akar ini
145
merupakan saluran pada
kulit akar yang berada di
luar, dan ini penting
dalam pengisapan air
maupun zat-zat
makanan. Akar serabut
biasanya berumur
pendek sedangkan
bentuk dan panjangnya
sama dengan akar
serabut.
4. Akar tajuk (crown roots) ;
adalah akar yang tumbuh
dari ruas batang
terendah. Akar tajuk ini
dibedakan lagi
berdasarkan letak
kedalaman akar di tanah
yaitu akar yang dangkal
dan akar yang dalam.
Apabila kandungan udara
di dalam tanah rendah,
maka akar-akar dangkal
mudah berkembang.
Gambar 48. Pertumbuhan akar
padi
Bagian akar yang telah dewasa
(lebih tua) dan telah mengalami
perkembangan akan berwarna
coklat, sedangkan akar yang
baru atau bagian akar yang
masih muda berwarna putih.
Padi termasuk golongan
tumbuhan Graminae dengan
batang yang tersusun dari
beberapa ruas. Ruas-ruas itu
merupakan bubung kosong.
Pada kedua ujung bubung
kosong itu bubungnya ditutup
oleh buku. Panjangnya ruas
tidak sama. Ruas yang
terpendek terdapat pada pangkal
batang. Ruas yang kedua, ruas
yang ketiga, dan seterusnya
adalah lebih panjang daripada
ruas yang didahuluinya.
Pada buku bagian bawah dari
ruas tumbuh daun pelepah yang
membalut ruas sampai buku
bagian atas.
Tepat pada buku bagian atas
ujumg dari daun pelepah
memperlihatkan percabangan
dimana cabang yang terpendek
menjadi ligula (lidah) daun, dan
bagian yamg terpanjang dan
terbesar menjadi daun kelopak
yang memiliki bagian auricle
pada sebelah kiri dan kanan.
Daun kelopak yang terpanjang
dan membalut ruas yang paling
atas dari batang disebut daun
bendera.
Tepat dimana daun pelepah
teratas menjadi ligula dan daun
bendera, di situlah timbul ruas
yang menjadi bulir padi.
146
Pertumbuhan batang tanaman
padi adalah merumpun, dimana
terdapat satu batang
tunggal/batang utama yang
mempunyai 6 mata atau sukma,
yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah
kanan dan sukma 2, 4, 6 sebelah
kiri. Dari tiap-tiap sukma ini
timbul tunas yang disebut tunas
orde pertama.
Gambar 49 Pertumbuhan daun
padi
Tunas orde pertama tumbuhnya
didahului oleh tunas yang
tumbuh dari sukma pertama,
kemudian diikuti oleh sukma
kedua, disusul oleh tunas yang
timbul dari sukma ketiga dan
seterusnya sampai kepada
pembentukan tunas terakhir
yang keenam pada batang
tunggal.
Tunas-tunas yang timbul dari
tunas orde pertama disebut
tunas orde kedua. Biasanya dari
tunas-tunas orde pertama ini
yang menghasilkan tunas-tunas
orde kedua ialah tunas orde
pertama yang terbawah sekali
pada batang tunggal/ utama.
Pembentukan tunas dari orde
ketiga pada umunya tidak terjadi,
oleh karena tunas-tunas dari
orde ketiga tidak mempunyai
ruang hidup dalam kesesakan
dengan tunas-tunas dari orde
pertama dan kedua.
Padi termasuk tanaman jenis
rumput-rumputan mempunyai
daun yang berbeda-beda, baik
bentuk, susunan, atau bagianbagiannya.
Ciri khas daun padi adalah
adanya sisik dan telinga daun.
Hal inilah yang menyebabkan
daun padi dapat dibedakan dari
jenis rumput yang lain.
Adapun bagian-bagian daun padi
adalah
- Helaian daun ; terletak
pada batang padi dan
selalu ada. Bentuknya
memanjang seperti pita.
Panjang dan lebar
helaian daun tergantung
varietas padi yang
bersangkutan.
- Pelepah daun (upih) ;
merupakan bagian daun
yang menyelubungi
batang, pelepah daun ini
berfungsi memberi
dukungan pada bagian
ruas yang jaringannya
147
lunak, dan hal ini selalu
terjadi
- Lidah daun ; lidah daun
terletak pada perbatasan
antara helai daun dan
upih. Panjang lidah daun
berbeda-beda,
tergantung pada varietas
padi. Lidah daun
duduknya melekat pada
batang. Fungsi lidah
daun adalah mencegah
masuknya air hujan di
antara batang dan
pelepah daun (upih).
Disamping itu lidah daun
juga mencegah infeksi
penyakit, sebab media air
memudahkan
penyebaran penyakit.
Daun yang muncul pada saat
terjadi perkecambahan
dinamakan coleoptile. koleoptil
keluar dari benih yang disebar
dan akan memanjang terus
sampai permukaan air. koleoptil
baru membuka, kemudian diikuti
keluarnya daun pertama, daun
kedua dan seterusnya hingga
mencapai puncak yang disebut
daun bendera, sedangkan daun
terpanjang biasanya pada daun
ketiga.
Daun bendera merupakan daun
yang lebih pendek daripada
daun-daun di bawahnya, namun
lebih lebar daripada daun
sebelumnya. Daun bendera ini
terletak di bawah malai padi.
Daun padi mula-mula berupa
tunas yang kemudian
berkembang menjadi daun.
Daun pertama pada batang
keluar bersamaan dengan
timbulnya tunas (calon daun)
berikutnya. Pertumbuhan daun
yang satu dengan daun
berikutnya (daun baru)
mempunyai selang waktu 7 hari,
dan 7 hari berikutnya akan
muncul daun baru
lainnya.banyaknya daun padi
hingga terbentuknya malai.
Gambar 50 Bagian daun
tanaman padi
Sekumpulan bunga padi
(spikelet) yang keluar dari buku
paling atas dinamakan malai.
Bulir-bulir padi terletak pada
cabang pertama dan cabang
kedua, sedangkan sumbu utama
malai adalah ruas buku yang
terakhir pada batang.
Panjang malai tergantung pada
varietas padi yang ditanam dan
cara bercocok tanam. Dari
sumbu utama pada ruas buku
148
yang terakhir inilah biasanya
panjang malai (rangkaian bunga)
diukur.
Panjang malai dapat dibedakan
menjadi 3 ukuran yaitu malai
pendek (kurang dari 20 cm),
malai sedang (antara 20-30 cm),
dan malai panjang (lebih dari 30
cm).
Jumlah cabang pada setiap
malai berkisar antara 15-20
buah, yang paling rendah 7 buah
cabang, dan yang terbanyak
dapat mencapai 30 buah
cabang.
Jumlah cabang ini akan
mempengaruhi besarnya
rendemen tanaman padi varietas
baru, setiap malai bisa mencapai
100-120 bunga (Aak, 1992).
Gambar 51 Malai padi
Bunga padi adalah bunga
telanjang artinya mempunyai
perhiasan bunga. Berkelamin
dua jenis dengan bakal buah
yang diatas. Jumlah benang sari
ada 6 buah,tangkai sarinya
pendek dan tipis,kepala sari
besar serta mempunyai dua
kandung serbuk. Putik
mempunyai dua tangkai
putik,dengan dua buah kepala
putik yang berbentuk malai
dengan warna pada umumnya
putih atau ungu (Departemen
Pertanian, 1983).
Gambar 52 Bunga padi
Komponen-komponen (bagian)
bunga padi adalah:
- kepala sari
- tangkai sari,
- palea (belahan yang
besar),
149
- lemma (belahan yang
kecil),
- kepala putik,
- tangkai bunga.
Buah padi yang sehari-hari kita
sebut biji padi atau butir/gabah,
sebenarnya bukan biji melainkan
buah padi yang tertutup oleh
lemma dan palea.
Buah ini terjadi setelah selesai
penyerbukkan dan pembuahan.
Lemma dan palea serta bagian
lain yang membentuk sekam
atau kulit gabah (Departemen
Pertanian, 1983).
Jika bunga padi telah dewasa,
kedua belahan kembang
mahkota (palea dan lemmanya)
yang semula bersatu akan
membuka dengan sendirinya
sedemikian rupa sehingga
antara lemma dan palea terjadi
siku/sudut sebesar 30-600.
Membukanya kedua belahan
kembang mahkota itu terjadi
pada umumnya pada hari-hari
cerah antara jam 10-12, dimana
suhu kira-kira 30-320C.
Di dalam dua daun mahkota
palea dan lemma itu terdapat
bagian dalam dari bunga padi
yang terdiri dari bakal buah
(biasa disebut karyiopsis). Jika
buah padi telah masak, kedua
belahan daun mahkota bunga
itulah yang menjadi pembungkus
berasnya (sekam).
Diatas karyiopsis terdapat dua
kepala putik yang dipikul oleh
masing-masing tangkainya.
Lodicula yang berjumlah dua
buah, sebenarnya merupakan
daun mahkota yang telah
berubah bentuk.
Pada waktu padi hendak
berbunga, lodicula menjadi
mengembang karena menghisap
cairan dari bakal buah.
Pengembangan ini mendorong
lemma dan palea terpisah dan
terbuka. Hal ini memungkinkan
benang sari yang memanjang
keluar dari bagian atas atau dari
samping bunga yang terbuka
tadi. Terbukanya bunga diikuti
dengan pecahnya kandung
serbuk, yang kemudian
menumpahkan tepung sarinya.
Sesudah tepung sarinya
ditumpahkan dari kandung
serbuk maka lemma dan palea
menutup kembali. Dengan
berpindahnya tepung sari dari
kepala putik maka selesailah
sudah proses penyerbukkan.
Kemudian terjadilah pembulaian
yang menghasilkan lembaga dan
endosperm. Endosperm adalah
penting sebagai sumber
cadangan makanan bagi
tanaman yang baru tumbuh
(Departemen Pertanian, 1983)
Peristiwa jatuhnya tepung sari
yang menempel pada kepala
putik disebut penyerbukan.
Penyerbukan ini berlangsung
antara jam 09.00-11.00 pagi.
150
Padi mengadakan penyerbukan
sendiri, namun dapat terjadi pula
penyerbukan silang.
Kemungkinan terjadinya
penyerbukan silang secara
alamiah pada padi jenis cere 0-
0,9 % sedangkan untuk jenis
bulu 0-2,9 %.
Pembuahan merupakan
kelanjutan dari penyerbukan.
Pada proses pembuahan ini,
pollen (serbuk sari) yang
menempel pada kepala putik
dengan bantuan cairan yang ada
pada kepala putik, akan
berkecambah atau memanjang
hingga bertemu dengan indung
telur, yang akhirnya
menghasilkan lembaga dan
endosperm.
Endosperm merupakan sumber
makanan cadangan bagi
tanaman padi yang baru tumbuh
(berkecambah), terdiri dari zat
tepung yang diliputi oleh selaput
protein, disamping itu juga
mengandung zat-zat anorganik
(Aak, 1992).
Secara umum padi dikatakan
sudah siap panen bila butir
gabah yang menguning sudah
mencapai sekitar 80 % dan
tangkainya sudah menunduk.
Tangkai padi merunduk karena
sarat dengan butir gabah bernas.
Untuk lebih memastikan padi
sudah siap panen adalah
dengan cara menekan butir
gabah. Bila butirannya sudah
keras berisi maka saat itu paling
tepat untuk dipanen (Andoko,
2002).
Secara umum pemasakan bulir
pada tanaman padi terbagi atas
empat stadia, yaitu :
1. Stadia masak susu (8-10
hari setelah berbunga
merata)
2. Stadia masak kuning (7
hari setelah masak susu)
3. Stadia masak penuh (7
hari setelah masak
kuning
4. Stadia masak mati (6 hari
setelah masak
penuh)(Aak, 1992).
Secara umum ada tiga stadia
proses pertumbuhan tanaman
padi dari awal penyemaian
hingga pemanenan :
1. Stadia vegetatif ; dari
perkecambahan sampai
terbentuknya bulir. Pada
varietas padi yang
berumur pendek (120
hari) stadia ini lamanya
sekitar 55 hari,
sedangkan pada varietas
padi berumur panjang
(150 hari) lamanya
sekitar 85 hari.
2. Stadia reproduktif ; dari
terbentuknya bulir sampai
pembungaan. Pada
varietas berumur pendek
lamanya sekitar 35 hari,
dan pada varietas
151
berumur panjang sekitar
35 hari juga.
3. Stadia pembentukan
gabah atau biji ; dari
pembungaan sampai
pemasakan biji. Lamanya
stadia sekitar 30 hari,
baik untuk varietas padi
berumur pendek maupun
berumur panjang.
Apabila ketiga stadia dirinci lagi,
maka akan diperoleh sembilan
stadia. Masing-masing stadia
mempunyai ciri dan nama
tersendiri. Stadia tersebut
adalah:
1. Stadia 0 ; dari
perkecambahan sampai
timbulnya daun pertama,
biasanya memakan
waktu eskitar 3 hari.
2. Stadia 1 ; stadia bibit,
stadia ini lepas dari
terbentuknya duan
pertama sampai
terbentuk anakan
pertama, lamanya sekitar
3 minggu, atau sampai
pada umur 24 hari.
3. Stadia 2 ; stadia anakan,
ketika jumlah anakan
semakin bertambah
sampai batas maksimum,
lamanya sampai 2
minggu, atau saat padi
berumur 40 hari.
4. Stadia 3 ; stadia
perpanjangan batang,
lamanya sekitar 10 hari,
yaitu sampai
terbentuknya bulir, saat
padi berumur 52 hari.
5. Stadia 4 ; stadia saat
mulai terbentuknya bulir,
lamanya sekitar 10 hari,
atau sampai padi
berumur 62 hari.
6. Stadia 5 ; perkembangan
bulir, lamanya sekitar 2
minggu, saat padi sampai
berumur 72 hari. Bulir
tumbuh sempurna
sampai terbentuknya biji.
7. Stadia 6 ; pembungaan,
lamanya 10 hari, saat
mulai muncul bunga,
polinasi, dan fertilisasi.
8. Stadia 7 ; stadia biji berisi
cairan menyerupai susu,
bulir kelihatan berwarna
hijau, lamanya sekitar 2
minggu, yaitu padi
berumur 94 hari.
9. Stadia 8 ; ketika biji yang
lembek mulai mengeras
dan berwarna kuning,
sehingga seluruh
pertanaman kelihatan
kekuning-kuningan. Lama
stadia ini sekitar 2
minggu, saat tanaman
berumur 102 hari.
10. Stadia 9 ; stadia
pemasakan biji, biji
berukuran sempurna,
keras dan berwarna
kuning, bulir mulai
merunduk, lama stadia ini
152
sekitar 2 minggu, sampai
padi berumur 116 hari
(Sudarmo, 1991).
Dibawah ini (Gambar 53)
diberikan tahapan pertumbuhan
padi yang dimulai dari
perkecambahan sampai padi
dewasa.
Gambar 53 Proses perkecambahan padi
153
Gambar 54 Padi dewasa
b.Varietas Unggul Padi
Varietas pada tanaman
padi mempunyai pengaruh besar
terhadap tingkat produktivitas. Di
negara-negara subtropis
umumnya dibudidayakan
varietas japonica.
Ciri yang paling khas dari
varietas itu adalah butirnya bulat,
batang tidak terlalu panjang,
serta berdiri kokoh. Sedangkan
di daerah tropis yang iklimnya
terpengaruh oleh angin muson
varietas utama yang
dibudidayakan adalah varietas
indica yang berbatang tinggi.
Disamping berbatang tinggi
varietas itu cenderung memiliki
tunas samping (side shoots)
(Hohnholz, 1986).
Gambar 55.Pertumbuhan
Varietas IR64 di lahan sawah
Varietas padi yang akan
digunakan haruslah memiliki ciriciri
:
- Dapat beradaptasi
dengan iklim dan tipe
tanah setempat
- Cita rasanya disenangi
dan memiliki harga yang
tinggi di pasaran lokal
- Daya hasil tinggi
- Toleran terhadap hama
dan penyakit
- Tahan rebah (IRRI,
2004).
154
Varietas unggul merupakan
salah satu komponen teknologi
budidaya padi yang mudah
diadopsi petani.
Varietas unggul berperanan
penting dalam peningkatan hasil,
perbaikan dan diversifikasi mutu,
dan penekanan kehilangan hasil
karena gangguan hama,
penyakit, maupun cekaman
lingkungan.
Kondisi agro-ekosistem lahan
pertanaman padi di Indonesia
sangat beragam, demikian juga
selera konsumen terhadap mutu
beras.
Kendala produksi terutama hama
dan penyakit bersifat dinamis,
dapat berubah karakter populasi,
ras, atau strainnya. Kondisi
tersebut menuntut penyediaan
varietas unggul yang juga
beragam dan dinamis
Varietas unggul yang dilepas
dalam beberapa tahun terakhir
memiliki keunggulan yang relatif
berbeda. Hal ini tentu
memberikan peluang yang lebih
luas bagi petani dalam memilih
varietas yang akan
dikembangkan.
Ada beberapa aspek yang perlu
mendapat pertimbangan dalam
menentukan pilihan, misalnya
potensi hasil, umur tanaman,
ketahanan terhadap hama dan
penyakit, mutu beras, selera
konsumen, dan kondisi daerah
pengembangan. Bagi peneliti,
aspek tersebut memang menjadi
pertimbangan dalam merakit
varietas unggul (Pustaka
Deptan, 2006).
Pemanfaatan Varietas Hasil
Rekayasa Bioteknologi
Pada umumnya tanaman
memiliki perbedaan fenotip dan
genotip yang sama. Perbedaan
varietas cukup besar
mempengaruhi perbedaan sifat
dalam tanaman. Keragaman
penampilan tanaman terjadi
akibat sifat dalam tanaman
(genetik) atau perbedaan
lingkungan kedua-duanya.
Perbedaan susunan genetik
merupakan salah satu faktor
penyebab keragaman
penampilan tanaman.
Program genetik merupakan
suatu untaian susunan genetik
yang akan diekspresikan pada
satu atau keseluruhan fase
pertumbuhan yang berbeda dan
dapat diekspresikan pada
berbagai sifat tanaman yang
mencakup bentuk dan fungsi
tanaman dan akhirnya
menghasilkan keragaman
pertumbuhan tanaman (Sitompul
dan Guritno, 1995).
Hasil penelitian dan
pengembangan Badan Tenaga
Nuklir Nasional (BATAN) dalam
bidang pertanian, khususnya
pada jenis tanaman padi hingga
tahun 1999 ini ialah berjumlah 6
(enam) varietas yaitu:
- Atomita I
- Atomita II,
155
- Atomita III,
- Atomita IV
- Padi gogo (lahan kering)
Situgintung, serta padi
Cilosari.
Enam varietas padi unggul hasil
penelitian dan pengembangan
Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Isotop
dan Radiasi (P3TIR-BATAN)
tersebut memiliki keunggulan
dibidang varietas asal
(induknya).
Keunggulan padi hasil pemuliaan
dengan radiasi adalah:
- produksinya tinggi
- tahan wereng coklat
- tahan penyakit hawar
daun, dan umurnya
genjah.
- Disamping keunggulan
tersebut juga masih
memiliki keunggulan
spesifik yang dimiliki oleh
padi varietas Atomita II
tahan terhadap lahan
bergaram, varietas
Cilbsari tahan terhadap
hama penggerek batang
dan rendemen cukup
tinggi (BATAN, 2000).
c. Macam dan warna beras
Warna beras yang berbeda-beda
diatur secara genetik, akibat
perbedaan gen yang mengatur
warna aleuron, warna
endospermia, dan komposisi pati
pada endospermia.
􀁸 Beras "biasa" yang
berwarna putih agak
transparan karena hanya
memiliki sedikit aleuron,
dan kandungan amilosa
umumnya sekitar 20%.
Beras ini mendominasi
pasar beras.
􀁸 Beras merah, akibat
aleuronnya mengandung
gen yang memproduksi
antosianin yang
merupakan sumber
warna merah atau ungu
􀁸 Beras hitam, sangat
langka, disebabkan
aleuron dan endospermia
memproduksi antosianin
dengan intensitas tinggi
sehingga berwarna ungu
pekat mendekati hitam,
􀁸 Ketan (atau beras ketan),
berwarna putih, tidak
transparan, seluruh atau
hampir seluruh patinya
merupakan amilopektin
􀁸 Ketan hitam, merupakan
versi ketan dari beras
hitam.
Beberapa jenis beras
mengeluarkan aroma wangi bila
ditanak (misalnya 'Cianjur
Pandanwangi' atau 'Rajalele').
Bau ini disebabkan beras
melepaskan senyawa aromatik
yang memberikan efek wangi.
156
Sifat ini diatur secara genetik
dan menjadi objek rekayasa
genetika beras.
Di antara komponen teknologi
yang dihasilkan melalui
penelitian, varietas unggul
memang lebih nyata
sumbangannya terhadap
peningkatan produksi padi
nasional.
Akan tetapi, keunggulan suatu
varietas dibatasi oleh berbagai
faktor, termasuk penurunan
ketahanannya terhadap hama
dan penyakit tertentu. Setelah
dikembangkan dalam periode
tertentu hingga saat ini
Departemen Pertanian telah
melepas lebih dari 175 varietas
unggul padi yang sebagian besar
dihasilkan oleh Puslitbang
Tanaman Pangan.
8.1.4. Kandungan beras
Sebagaimana bulir serealia lain,
bagian terbesar beras
didominasi oleh pati (sekitar 80-
85%). Beras juga mengandung
protein, vitamin (terutama pada
bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras dapat digolongkan
menjadi dua kelompok:
􀁸 amilosa, pati dengan
struktur tidak bercabang
􀁸 amilopektin, pati dengan
struktur bercabang.
Komposisi kedua golongan
pati ini sangat menentukan
warna (transparan atau tidak)
dan tekstur nasi (lengket,
lunak, keras, atau pera).
d.Anatomi beras
Beras sendiri secara biologi
adalah bagian biji padi yang
terdiri dari
􀁸 aleuron, lapis terluar
yang sering kali ikut
terbuang dalam proses
pemisahan kulit,
􀁸 endospermia, tempat
sebagian besar pati dan
protein beras berada, dan
􀁸 embrio, yang merupakan
calon tanaman baru
(dalam beras tidak dapat
tumbuh lagi, kecuali
dengan bantuan teknik
kultur jaringan). Dalam
bahasa sehari-hari,
embrio disebut sebagai
mata beras.
e.Kegunaan Beras
Beras dimanfaatkan terutama
untuk diolah menjadi nasi,
makanan pokok terpenting
warga dunia.
Selain itu, beras merupakan
komponen penting beras kencur
dan param. Minuman yang
populer dari olahan beras adalah
arak dan Air tajin.
Dalam bidang industri pangan,
beras diolah menjadi tepung
beras. Sosohan beras (lapisan
aleuron), yang memiliki
157
kandungan gizi tinggi, diolah
menjadi tepung rice bran.
Bagian embrio juga diolah
menjadi suplemen dengan
sebutan tepung mata beras.
Untuk kepentingan diet, beras
dijadikan sebagai salah satu
sumber pangan bebas gluten
dalam bentuk berondong.
Data survey pada MT 2002/03 di
12 propinsi penghasil padi
membuktikan sekitar 90% dari
9,2 juta ha lahan sawah telah
ditanami varietas unggul baru.
Dari sekitar 80 varietas padi
yang telah berkembang di
petani, beberapa varietas
banyak digunakan seperti IR64,
Way Apoburu, Ciliwung,
Memberamo, dan Ciherang,
masing-masing dengan luas
tanam 4,20 juta ha, 0,80 juta ha,
0,62 juta ha, 0,43 juta ha, dan
0,41 juta ha. Di Jawa Barat, luas
areal tanam varietas Ciherang
pada MT 2002/03 menduduki
urutan kedua setelah IR64,
masing-masing 18% dan 33%
dari total areal pertanaman padi
di sentra produksi nasional ini.
Di antara varietas unggul yang
telah berkembang di petani, IR64
paling lama bertahan karena
hasil dan mutu berasnya tinggi.
Sebenarnya, Ciherang adalah
hasil persilangan antara varietas
IR64 dengan varietas/galur lain.
Sebagian sifat IR64 juga dimiliki
oleh Ciherang, termasuk hasil
dan mutu berasnya yang tinggi.
f.Syarat Tumbuh
f.1Iklim
Padi dapat tumbuh dalam iklim
yang beragam, tumbuh di daerah
tropis dan subtropis pada 45o LU
dan 45o LS dengan cuaca panas
dan kelembaban tinggi dengan
musim hujan 4 bulan.
Rata–rata curah hujan yang baik
adalah 200 mm/bulan atau
1500-2000 mm/tahun. Padi
dapat di tanam di musim
kemarau atau hujan. Pada
musim kemarau produksi
meningkat asalkan irigasi selalu
tersedia. Di musim hujan,
walaupun air melimpah produksi
dapat menurun karena
penyerbukan kurang intensif.
Di dataran rendah padi
memerlukan ketinggian 0 – 650
m dpl dengan temperatur 22 –
27 oC sedangkan didataran tinggi
650-1500 mdpl dengan
temperatur 19 – 23 oC.
Tanaman padi memerlukan
penyinaran matahari penuh
tanpa naungan. Angin juga
berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman padi yaitu
dalam penyerbukan dan
pembuahan tetapi jika terlalu
kencang akan merobohkan
tanaman
Temperatur sangat
mempengaruhi pengisian biji
padi. Temperatur yang rendah
dan kelembaban yang tinggi
pada waktu pembungaan akan
mengganggu proses pembuahan
158
yang mengakibatkan gabah
menjadi hampa.
Hal ini terjadi akibat tidak
membukanya bakal biji.
Temperatur yang juga rendah
pada waktu bunting dapat
menyebabkan rusaknya pollen
dan menunda pembukaan
tepung sari (Luh, 1991).
Tanaman padi dapat hidup
dengan baik di daerah yang
berhawa panas dan banyak
mengandung uap air. Dengan
kata lain, padi dapat hidup baik
di daerah beriklim panas yang
lembab.
Pengertian iklim ini menyangkut
curah hujan, temperatur,
ketinggian tempat, sinar
matahari, angin, dan musim.
1. Tanaman padi
membutuhkan curah
hujan yang baik, rata-rata
200 mm/bulan atau lebih,
dengan distribusi selama
4 bulan. Sedangkan
curah hujan yang
dikehendaki per tahun
sekitar 1500-2000 mm.
2. Tanaman padi dapat
tumbuh baik pada suhu
230C ke atas, sedangkan
di Indonesia pengaruh
suhu tidak terasa, sebab
suhunya hamper konstan
sepanjang tahun. Adapun
salah satu pengaruh
suhu terhadap tanaman
padi yaitu kehampaan
pada biji.
3. Ketinggian daerah yang
cocok untuk tanaman
padi adalah daerah
antara 0-650 meter
dengan suhu antara 26,5
0C – 22,5 0C, daerah
antara 650-1500 meter
dengan suhu antara 22,5-
18,7 0C masih cocok
untuk tanaman padi.
4. Sinar matahari diperlukan
untuk berlangsungnya
proses fotosintesis,
terutama pada saat
tanaman berbunga
sampai proses
pemasakan buah. Proses
pembungaan dan
kemasakan buah
berkaitan erat dengan
intensitas penyinaran dan
keadaan awan.
5. Angin mempunyai
pengaruh positif dan
negatif terhadap tanaman
padi. Pengaruh
positifnya, terutama pada
proses penyerbukan dan
pembuahan. Pengaruh
negatifnya adalah
penyakit yang
disebabkan oleh bakteri
atau jamur dapat
ditularkan oleh angin, dan
saat terjadi angina
kencang pada saat
tanaman berbunga, buah
dapat menjadi hampa
dan tanaman roboh.
6. Pada musim kemarau
peristiwa penyerbukan
dan pembuahan tidak
terganggu oleh hujan,
159
sehingga persentase
terjadinya buah lebih
besar dan produksi
menjadi lebih baik.
f.2Tanah
Padi sawah ditanam di tanah
berlempung yang berat atau
tanah yang memiliki lapisan
keras 30 cm dibawah permukaan
tanah. Menghendaki tanah
Lumpur yang subur dengan
ketebalan 18 – 22 cm.
Keasaman tanah antara pH 4,0 –
7,0. Pada padi sawah,
penggenangan akan mengubah
pH tanam menjadi netral (7,0).
Pada prinsipnya tanah berkapur
dengan pH 8,1 – 8,2 tidak
merusak tanaman padi tetapi
akan mengurangi hasil produksi
Tanah sawah yang mempunyai
persentase fraksi pasir dalam
jumlah besar, kurang baik untuk
tanaman padi, sebab tekstur ini
mudah meloloskan air. Pada
tanah sawah dituntut adanya
Lumpur, terutama untuk
tanaman padi yang memerlukan
tanah subur, dengan kandungan
ketiga fraksi dalam perbandingan
tertentu.
Sifat tanah sangat berbeda-beda
dan hal ini berhubungan dengan
keadaan susunan tanah atau
struktur tanahnya. Air dan udara
yang tidak dapat beredar di
dalam tanah dapat
menyebabkan kondisi tanah
tidak baik, contohnya tanah liat.
Tidak semua jenis tanah cocok
untuk areal persawahan. Hal ini
dikarenakan tidak semua jenis
tanah dapat dijadikan lahan
tergenang air. Padahal dalam
sistem tanah sawah, lahan harus
tetap tergenang air agar
kebutuhan air tanaman padi
tercukupi sepanjang musim
tanam.
Oleh karena itu, jenis tanah yang
sulit menahan air (tanah dengan
kandungan pasir tinggi) kurang
cocok dijadikan lahan
persawahan.
Sebaliknya, tanah yang sulit
dilewati air (tanah dengan
kandungan lempung tinggi)
cocok dijadikan lahan
persawahan. Kondisi yang baik
untuk pertumbuhan tanaman
padi sangat ditentukan oleh
beberapa faktor, yaitu posisi
topografi yang berkaitan dengan
kondisi hidrologi, porisitas tanah
yang rendah dan tingkat
keasaman tanah yang netral,
sumber air alam, serta
kanopinas modifikasi sistem
alam oleh kegiatan manusia.
g. Teknik budidaya padi
sebatang
Produksi padi nasional pada
bulan Desember 1997 adalah
46.591.874 ton yang meliputi
areal panen 9.881.764 ha. Hasil
produksi padi sawah dapat
mencapai 6-7 ton/ha, sedangkan
untuk padi gogo produksi hanya
mencapai 1-3 ton /ha
(Reghawanti, 2005).
Sampai dengan tahun 2005,
Indonesia masih mengalami
defisit pangan utama, untuk padi
sebesar 2,5 juta ton, kedelai 1,5
160
juta ton, gula 1,7 juta ton,
sedangkan pangan lainnya
mengalami surplus. Ini
menunjukkan bahwa dalam 5
tahun ke depan Indonesia masih
harus memacu produksi pangan
untuk mengurangi defisit.
Untuk memenuhi kebutuhan
pangan yang terus meningkat,
lahan sawah beririgasi tetap
menjadi andalan bagi produksi
padi nasional. Program
intensifikasi yang dicanangkan
sejak sekitar tiga dekade lalu
pada awalnya mampu
meningkatkan produksivitas dan
produksi padi secara nyata.
Tetapi sejak dekade terakhir
produksivitas padi cenderung
melandai, bahkan ada yang
menurun di beberapa lokasi.
Intensifikasi budidaya padi harus
terus diupayakan. Salah satu
metode yang diterapkan adalah
SRI (The System Of Rice
Intensification) yang pertama kali
dikembangkan oleh Henri De
Laulanie di Madagaskar pada
tahun 1980.
SRI adalah sistem intensifikasi
padi yang menyinergikan tiga
faktor pertumbuhan padi untuk
mencapai produktivitas maksimal
yaitu;
1) maksimalisasi jumlah anakan
2) pertumbuhan akar,
3) suplai hara, air, oksigen.
Cara tersebut menghemat air,
karena padi tidak digenangi
layaknya di persawahan. Air
hanya digunakan untuk menjaga
kelembaban tanah agar akar
padi dapat tumbuh dengan baik
karena pada dasarnya padi
bukan tanaman air.
Hal ini dimaksudkan agar suplai
oksigen ke akar cukup sehingga
padi menjadi sehat dan
berkembang membentuk
karakter-karakter morfologi yang
mendukung peningkatan
produktivitas tanaman padi.
Dalam sistem SRI penggunaan
pupuk organik merupakan salah
satu faktor pembeda
dibandingkan dengan sistem non
SRI.
Disamping itu produk yang
dihasilkan dari budidaya atau
peternakan yang menggunakan
pupuk organik lebih disukai
masyarakat.
Alasannya, produk tersebut lebih
aman bagi kesehatan. Di
negara-negara maju,
masyarakatnya mulai beralih
mengkonsumsi produk yang
dihasilkan secara organik.
Pupuk organik cair atau padat
yang diaplikasikan pada
budidaya tanaman atau
peternakan memiliki nilai jual
yang lebih tinggi (Parnata,
2004).
Hasil metode SRI sangat
memuaskan. Di Madagaskar,
pada beberapa tanah tak subur
161
yang produksi normalnya 2
ton/ha, petani yang
menggunakan SRI memperoleh
hasil panen lebih dari 8 ton/ha,
beberapa petani memperoleh 10
– 15 ton/ha, bahkan ada yang
mencapai 20 ton/ha.
Sedangkan, di daerah lain
selama 5 tahun, ratusan petani
memanen 8-9 ton/ha.
Metode SRI minimal
menghasilkan panen dua kali
lipat dibandingkan metode non
SRI maupun metode lain yang
biasa diterapkan oleh petani.
Petani tidak harus menggunakan
masukan luar untuk memperoleh
manfaat SRI. Metode ini juga
bisa diterapkan untuk berbagai
varietas yang biasa dipakai
petani.
Semua unsur potensi dalam
tanaman padi dikembangkan
dengan cara memberikan kondisi
yang sesuai dengan
pertumbuhan mereka (Berkelaar,
2005).
Perpaduan antara pemakaian
varietas unggul padi sawah dan
pemberian pupuk organik cair
pada sistem penanaman SRI
diharapkan dapat mengatasi
permasalahan masih rendahnya
produksi padi, selain itu juga
diharapkan dapat
mengembangkan pertanian
berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan.
Air sangat perlu bagi kehidupan
tumbuhan. Kandungan air
tumbuhan bervariasi sesuai
antar-spesies dan dalam
berbagai struktur tumbuhan dan
juga bervariasi antar siang dan
malam selama periode
pertumbuhan.
Tumbuhan menggunakan air
kurang dari 5 % air yang diserap.
Sisanya hilang ke atmosfer
melalui transpirasi dari daun
tumbuhan.
Kebutuhan air untuk pengolahan
tanah sampai siap tanam (30
hari) mengkonsumsi air 20% dari
total kebutuhan air untuk padi
sawah dan fase bunting sampai
pengisian bulir (15 hari)
mengonsumsi air sebanyak 35
%.
Berdasar data tersebut
sebetulnya sejak tanam sampai
memasuki fase bunting tidak
membutuhkan air banyak,
demikian pula setelah pengisian
bulir.
Oleh karenanya 15 hari sebelum
panen, padi tidak roboh dan
ditinjau dari aspek pemberian air
memang tidak perlu lagi.
Budidaya padi yang diterapkan
dengan konsep penghematan air
yaitu penggenangan hanya
dilakukan selama 25 hari yaitu
pada saat padi mengalami masa
bunting (pengisian malai).
Konsep hemat air ini menjadi
acuan pada SRI (budidaya padi
sebatang), dan konsep ini sangat
mendukung keoptimalan
pertumbuhan dan
perkembangan padi karena bibit
umur muda tumbuh lebih baik
162
dalam kondisi aerob / tidak
tergenang (berdasarkan riset
jepang > 30 tahun),
mikroorganisme tanah lebih baik
untuk perakaran (pada tanah
macak–macak /tidak tergenang),
jumlah sel aerenchym akar padi
sawah yang tergenang sangat
kecil, sedangkan pada tanah
yang tidak tergenang sangat
tinggi, dan hama padi sawah
(keong mas) lebih terkendali.
Pengefisienan penggunaan air di
petakan dapat dilakukan dengan
mengairi sawah dalam keadaan
macak-macak. Setelah tanaman
padi berumur 14 hari sampai
periode bunting tidak
memerlukan air yang banyak.
Kebiasaan petani menggenangi
sawahnya sampai 5 cm bahkan
lebih karena petani tidak
membayar air yang digunakan
tersebut, sehingga cenderung
bermewah-mewah dengan air.
Berdasar hasil penelitian
menggunakan air pada padi
sawah menunjukkan bahwa
sawah yang digenangi setinggi 5
cm sejak tanam sampai bunting
tidak memberikan perbedaan
hasil gabah dengan sawah yang
diairi macak-macak.
Hanya biasanya sawah yang
diairi macak-macak populasi
gulma lebih banyak terutama
rumput-rumput berdaun sempit.
Dengan irigasi macak-macak
sampai periode bunting, maka
air dapat dihemat
penggunaannya.
Metode ini mampu menghemat
penggunaan benih padi sampai
80 %.
Jika biasanya untuk satu hektar
lahan diperlukan benih sekitar 50
kg, dengan SRI hanya
diperlukan 8-10 kg.
Produktivitas yang selama ini
rendah ( 4-5 ton/ha ) dapat
didongkrak dengan penerapan
SRI yang telah dilakukan di
beberapa provinsi dan telah diuji
secara statistik dapat mencapai
10 ton/ha.
Selain bertujuan untuk
meningkatkan produksi,
penerapan metode SRI ternyata
mengandung konsep pertanian
yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan.
Metode SRI lebih sedikit
menggunakan pupuk kimia serta
sangat dianjurkan menggunakan
pupuk organik seperti pupuk
kandang, kompos, pupuk hijau
serta biomassa ( jerami ).
Teknik penanaman diawali
dengan pengolahan tanah,
pembibitan, penanaman,
pemupukkan, pengendalian
hama, penyakit, dan gulma, dan
diakhiri dengan panen. Berikut
ini adalah tahapan teknik
penanamannya sesuai dengan
urutan dari atas kebawah.
163
Pengolahan tanah
Penanaman hanya 1 tanaman
per lubang tanam
Tampilan gambar anakan
maksikum, masa puncak
pertumbuhan vegetatif
Awal fase pengisian biji
Fase Pengisian biji
Fase Pematangan
Panen
Sawah yang tidak digenangi air,
akan dapat mengurangi emisi
gas CH4 (gas methan = gas
rumah kaca ) di atmosfer. Gas
methan akan teremisi ke
atmosfer dari tanah – tanah yang
tergenang
Berkelaar (2005)
mengemukakan bahwa terdapat
164
empat kunci penerapan SRI,
yaitu :
1. Bibit dipindah lapang
(transplantasi) lebih awal
Bibit padi ditransplantasi saat
dua daun telah muncul pada
batang muda, biasanya saat
berumur 8-15 hari. Benih
harus disemai dalam petakan
khusus dengan menjaga
tanah tetap lembab dan tidak
tergenang air. Lebih banyak
batang yang muncul dalam
satu rumpun, dan dengan
metode SRI lebih banyak
bulir padi yang dihasilkan
oleh malai.
2. Bibit ditanam satu-satu
daripada secara berumpun
3. Jarak tanam yang lebar
Pada prinsipnya tanaman
harus mendapat ruang cukup
untuk tumbuh. Hasil panen
maksimum diperoleh pada
sawah subur dengan jarak
tanam 50 x 50 cm, sehingga
hanya 4 tanaman per m2.
Dalam metode SRI
kebutuhan benih jauh lebih
sedikit dibandingkan metode
tradisional, salah satu
evaluasi SRI menunjukkan
bahwa kebutuhan benih
hanya 7 kg/ha, dibanding
dengan metode tradisional
yang mencapai 107 kg/ha.
4. Kondisi tanah tetap lembab
tapi tidak tergenang air
Secara tradisional
penanaman padi biasanya
selalu digenangi air. Namun,
sebenarnya air yang
menggenang membuat
sawah menjadi hypoxic
(kekurangan oksigen) bagi
akar dan tidak ideal untuk
pertumbuhan. Akar padi
akan mengalami penurunan
bila sawah digenangi air,
hingga mencapai ¾ total akar
saat tanaman mencapai
masa berbunga. Saat itu
akar mengalami die back
(akar hidup tapi bagian atas
mati). Keadaan ini disebut
juga “senescence”, yang
merupakan proses alami, tapi
menunjukkan tanaman sulit
bernafas, sehingga
menghambat fungsi dan
pertumbuhan tanaman.
Dengan SRI, petani hanya
memakai kurang dari ½
kebutuhan air pada sistem
tradisional yang biasa
menggenangi tanaman padi.
Tanah cukup dijaga tetap
lembab selama tahap
vegetatif, untuk
memungkinkan lebih banyak
oksigen bagi pertumbuhan
akar. Sesekali (mungkin
seminggu sekali) tanah harus
dikeringkan sampai retak. Ini
dimaksudkan agar oksigen
dari udara mampu masuk
kedalam tanah dan
mendorong akar untuk
“mencari” air. Sebaliknya,
jika sawah terus digenangi,
akar akan sulit tumbuh dan
menyebar, serta kekurangan
oksigen untuk dapat tumbuh
dengan subur.
Selanjutnya Berkelaar (2005)
menambahkan selain empat
prinsip utama diatas, ada dua
165
praktek tambahan lain yang
sangat penting dalam metode
SRI.
Keduanya tidak berlawanan dan
telah lama dikenal oleh petani
dalam bercocok tanam.
Sehingga untuk menerapkan
kedua praktek tambahan ini tidak
terlalu sulit.
Kedua praktek tambahan
tersebut adalah :
1. Pendangiran
Pendangiran (membersihkan
gulma dan rumput) dapat
dilakukan dengan tangan atau
alat sederhana. Pendangiran
pertama dilakukan 10 atau 12
hari setelah tranplantasi, dan
pendangiran kedua setelah 14
hari. Minimal disarankan 2-3 kali
pendangiran, namun jika
ditambah sekali atau dua kali lagi
akan mampu meningkatkan hasil
hingga satu atau dua ton per ha.
Yang lebih penting dari praktek
ini bukan sekedar untuk
membersihkan gulma, tetapi
pengadukan tanah ini dapat
memperbaiki struktur dan
meningkatkan aerasi tanah.
Pendangiran ini membutuhkan
banyak tenaga, bisa mencapai
25 hari kerja untuk 1 ha. Tapi hal
ini tidak sia-sia karena hasil
panen yang diperoleh sangat
tinggi.
2. Asupan Organik
Petani disarankan untuk
menggunakan kompos, dan
hasilnya lebih bagus.
Kompos dapat dibuat dari
macam-macam sisa tanaman
(seperti jerami, serasah
tanaman, dan bahan dari
tanaman lainnya), dengan
tambahan pupuk kandang bila
ada.
Daun pisang juga bisa
menambah unsur potasium,
daun-daun tanaman kacangkacangan
dapat menambah
unsur N, dan tanaman lain
seperti Tithonia dan Afromomum
angustifolium, memberikan
tambahan unsur P.
Kompos menambah nutrisi tanah
secara perlahan-lahan dan dapat
memperbaiki struktur tanah.
Di tanah yang miskin jika tidak di
pupuk kimia, secara otomatis
perlu diberikan masukan nutrisi
lain.
Pedomannya: dengan hasil
panen yang tinggi, sesuatu perlu
dikembalikan untuk
menyuburkan tanah.
Keuntungan dari SRI :
- Hasil-hasil yang lebih
tinggi, baik itu butiran
maupun jerami.
- Mempersingkat umur
panen (± 10 hari).
166
- Pemakaian bahan kimia
lebih sedikit
- Kebutuhan air lebih
sedikit
- Persen bulir sekam lebih
sedikit
- Meningkatnya berat bulir
- Tanpa perubahan ada
ukuran bulir
- Tahan badai siklon
- Tahan dingin
- Kesehatan tanah
meningkat melalui
aktivitas biologis
Pada SRI semua tampak ideal
untuk direalisasikan, tetapi
disamping itu juga memiliki
keterbatasan, diantaranya :
- SRI membutuhkan lebih
banyak tenaga kerja per
ha daripada metode
tradisional.
- Dengan SRI, diperlukan
lebih banyak waktu juga
untuk mengatur
pengairan sawah
dibandingkan cara lama.
- Pendangiran juga
membutuhkan waktu
lebih banyak bila sawah
tidak digenangi air terus.
- Awalnya, SRI
membutuhkan 50-100%
tenaga kerja (yang
terampil dan teliti) lebih
banyak, tapi lama
kelamaan jumlah ini
dapat menurun.
Walaupun metode ini masih
perlu pengembangan lebih lanjut
akan tetapi dari hasil yang
diperoleh memperlihatkan
harapan dapat meningkatkan
produksi pangan nasional.
Dalam hal produksi beras
nasional maka beberapa upaya
yang dibutuhkan untuk
memelihara kapasitas
sumberdaya pangan adalah
untuk memelihara kapasitas
melalui:
a. Pembangunan dan
rehabilitasi sistem irigasi,
serta perbaikan pengelolaan
sumber daya air dalam
rangka menyediakan air yang
cukup untuk pertanian.
Untuk itu perlu dilakukan : (i)
perbaikan dalam pengaturan,
kelembagaan pengelolaan,
dan pemanfaatan
sumberdaya air, seperti
penatagunaan ruang/wilayah
dan penerapan peraturan
secara disiplin, oleh Pemda
dan Depdagri; (ii) fasilitasi
pengelolaan sumber daya air
dan pengairan oleh Meneg
Kimpraswil; (iii) fasilitasi
pemanfaatan lahan pertanian
secara produktif, efisien dan
ramah lingkungan oleh
Deptan; dan (iv)
pemanfaatan dan
167
pengawasan sumberdaya
lahan dan perairan oleh
masyarakat.
b. Menekan berlanjutnya alih
fungsi lahan beririgasi
kepada usaha non pertanian.
Hal ini menyangkut
pengaturan/pembatasan
dengan sistem insentif yang
dilaksanakan secara lintas
institusi antara lain: (i)
penetapan peraturan dan
penerapannya secara disiplin
oleh Pemda dan BPN; (ii)
fasilitasi bagi pengembangan
berbagai usaha masyarakat
berbasis pertanian oleh
Departemen Teknis; dan (iii)
pengawasan oleh
masyarakat sebagai pelaku
usaha.
c. Membuka lahan pertanian
baru pada lokasi-lokasi yang
memungkinkan dengan tetap
memperhatikan rencana tata
ruang wilayah dan kaidahkaidah
kelestarian
lingkungan; yang difasilitasi
oleh Pemda.
Upaya untuk memacu
peningkatan produktivitas usaha
pangan mencakup :
(i) penciptaan varietas
unggul baru, dan
teknologi berproduksi
yang lebih efisien;
(ii) teknologi pasca panen
untuk menekan
kehilangan hasil; dan (iii)
teknologi yang
menunjang peningkatan
intensitas tanam. Upaya
ini dilaksanakan secara
sinergis oleh institusi
penelitian,
pengembangan dan
penyuluhan lingkup
Departemen Pertanian,
Ristek/BPPT, Perguruan
Tinggi, dan
Lembaga/Dinas Teknis
setempat yang
melaksanakan alih
pengetahuan dan
teknologi kepada
masyarakat.
(iii) Upaya menyediakan
insentif untuk
meningkatkan minat
masyarakat
mengembangkan usaha
pangan dilakukan
melalui: penyediaan
prasarana transportasi,
komunikasi, perdagangan
(Pemda, Kimpraswil,
Swasta); pelayanan
administrasi perizinan
usaha produksi, industri,
distribusi yang sederhana
dan cepat (Pemda);
pelayanankeuangan/per
modalan yang cepat dan
murah (Pemda, Swasta).
(iv) Di sisi permintaan,
upaya menurunkan
konsumsi beras per
kapita dapat dilakukan
melalui penggalakan
program diversifikasi
pangan dengan
pemanfaatan pangan
sumber kalori, protein,
vitamin dan mineral yang
dapat diproduksi secara
168
lokal. Beberapa upaya
diantaranya adalah:
- Sosialisasi, pelatihan,
dan pendidikan sejak
usia sekolah, tentang
pola makan dengan gizi
seimbang dengan
sumber-sumber pangan
bervariasi; oleh lembagalembaga
pendidikan dan
pelatihan daerah dengan
dukungan dari pusat.
- Pengembangan teknologi
pengolahan untuk
meningkatkan daya tarik
ekonomis dan fisik dari
berbagai bahan pangan
lokal/tradisional non
berasyang difasilitasi oleh
unit Litbang Departemen
Teknis, Deperindag,
Perguruan Tinggi dan
Swasta.
- Pengembangan industri
pengolahan dengan
bahan-bahan pangan
lokal oleh swasta yang
difasilitasi oleh Pemda
dan Deperindag.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s